Izinkan aku menuntut ilmu, ini pun untuk anak-anak kita nanti

by - Wednesday, October 10, 2018



Aku adalah seorang wanita berusia 28 tahun, dengan 2 orang anak. Keseharianku sekarang hanya berkecimpung di dapur, sumur dan kasur. Mengucapkan selamat pagi dan selamat malam pada suami serta anak-anak. Membeli sayuran di depan rumah, memasak, lalu menghidangkanya diatas meja makan. Tidak ada kegiatan tambahan, dalam keseharian hidupku. Penghasilan sehari-hari hanya mengandalkan gaji suami, dan setiap harinya harus cukup untuk menghidangkan karbohidrat, lemak dan protein diatas piring, belum lagi uang saku anak-anak. Setelah 10 tahun menikah, aku berpikir kenapa dulu tak pernah menuruti nasehat orang tua.

Saat aku duduk di bangku SMA, tidak ada motivasi sedikit pun untuk belajar. Lulus SMA tepat waktu pun sungguh sebuah keajaiban. Tujuanku setiap pagi adalah warung Bi Emah, untuk sekedar bercanda menertawakan orang, hingga bergosip bersama teman-teman. HIngga 6 bulan berlalu, orang tuaku hanya tahu setiap pagi aku bangun dan mandi untuk bersekolah, siang hari pulang setelah mendapat ilmu. Namun, setelah beberapa bulan, guru di sekolah sudah sangat geram dengan tingkahku yang selalu bolos setiap harinya di salah satu pelajaran, sehingga mengirimkan surat panggilan pada orang tuaku. Betapa terkejutnya orang tuaku setelah tahu tindakan memalukan itu hingga orang tua ku izin bekerja demi memenuhi panggilan dari sekolah. Setelah kejadian itu, ayahku bertindak lebih tegas bahkan sering memukuliku. Hingga akhirnya orang tua ku menyerah memotivasiku dengan cara apa lagi, mulai dari cara halus hingga kasar sudah dilakukan tapi tidak ada gairah sedikitpun untuku bersekolah.

Hingga pada suatu hari ayahku menawariku untuk menikah, entah apa yang aku pikirkan saat itu aku langsung menerima tawaran untuk menikah dengan laki-laki yang usianya 23 tahun lebih tua dariku. Aku berfikir surga sudah di depan mata, menikah muda dengan laki-laki yang cukup matang dan mapan, kehidupanku akan indah. Mengurus suami dan anak-anak yang lucu, tanpa memikirkan pelajaran. Aku pikir itulah takdir wanita diciptakan. Sampai aku merasakanya sendiri, ternyata tidak seindah yang diharapkan. Kehidupan selalu berputar, kadang diatas dan tiba-tiba bisa berada dibawah. Bagaimana kita bisa menghadapinya? Tentu dengan niat dan bekal. 

Kemampuan dasar menulis dan membaca saja tidak cukup untuk menjalani kehidupan sekarang. Bukan hanya karena tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai, tetapi juga aku kadang malu saat anak-anaku meminta diajarkan PR nya dan aku tidak bisa mengerjakanya. Aku memutuskan untuk mendaftarkan mereka ke lembaga bimbingan belajar. Mungkin untuk sebagian orang bimbel adalah pilihan yang tepat, tapi bagiku ini adalah pilihan yang sulit karena waktu mereka bersama orang tua semakin berkurang. Aku hanya bertemu dengan anaku pagi hari saat akan pergi ke sekolah, karena full day school, sepulang sekolah mereka kelelahan lantas tidur siang, malam hari mengerjakan tugas sekolah tapi aku tidak bisa mengajarinya karena pengetahuanku yang minim. Hari sabtu-minggu mereka dihabiskan di lembaga bimbingan belajar bersama guru mereka, bukan aku orang tuanya yang seharusnya juga menjadi guru bagi mereka. 

Untuk menjadi madrasah bagi kedua anaku saja aku tidak bisa, bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan dihadapan sang pencipta?

You May Also Like

2 comments

Instagram